,.
Showing posts with label Coretan Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Coretan Motivasi. Show all posts

Saturday, May 11, 2013

Indah, selalu Indah dan benar-benar unik di dunia, Keukenhof!!!!!

Apakah anda pernah melihat lebih dari 7 juta tulip, bakung dan gondok, semua mekar?
Apakah anda pula pernah melihat begitu banyak bunga, warna dan pola, lalu anda berjalan melalui taman dan menemukan tempat kecantikan khusus, mengunjungi berbagai acara bunga dan mengagumi keindahan alam atau membiarkan diri anda akan terkejut oleh kebun inspirasional?
Iya, anda akan menemukan tempat tersebut di sebuah tempat bernama Keukenhof.

Keukenhof merupakan suatu dunia tersendiri yang benar-benar berbeda, karena pemandangan yang unik. Ketika anda menyaksikan kebun berbentuk indah, yang diwarnai oleh beribu-ribu kelopak bunga yang memekar mempesona, maka anda tidak memerlukan waktu kurang dari satu-lima detik untuk melupakan kehidupan sehari-hari, suasana dinamis di kota atau di tempat kerja.
 Pemandangan indah di Keukenhof

Keukenhof terletak di daerah selatan Belanda di kota kecil Lisse, di selatan Haarlem dan barat daya Amsterdam. Awal mula keukenhof merupakan sumber herbal Jacqueline, Putri Pangeran di kastil Hainut. Kemudian Keukenhof menjadi dapur herbal milk Jacoba van Bieren dan tempat berburu di abad 15. Pada abad ke-19, arsitek bernama Jan David Zocher dan putranya Louis Paul Zocher, merancang taman di sekitar benteng. Tahun pun silih berganti hingga sampailah atas inisiatif walikota Lisse dan sejumlah petani serta eksportir bunga, maka diadakanlah Pameran Bunga di ruangan terbuka untuk pertama kalinya pada tahun 1949. Hal ini dilakukan secara berulang setiap tahun. Berbekal sebuah Rintisan Pameran Bunga Sederhana, menjadikan keukenhof sebagai taman yang terkenal saat ini.
   Arsitek Jan David Zocher dan Louis Paul Zocher
Rintisan Keukenhof menjadikan taman ini sebagai Taman Eropa  bahkan merupakan taman bunga yang terkenal dan terbesar di dunia selama lebih dari 60 tahun. Sekitar tujuh juta umbi bunga yang ditanam setiap tahun di taman, yang meliputi area seluas 32 hektar dan 15 kilometer jalan-jalan setapak. Ketika musim semi tiba,  hamparan bunga aneka warna akan memanjakan mata kita kemanapun kita melangkah. Taman musim semi ini menawarkan 30 bunga inspirasional, 7 kebun inspirasional yang menakjubkan, lebih dari 2500 pohon dalam 87 jenis dan 100 karya seni yang indah lainnya. Memang indah, selalu indah bahkan benar-benar menjadikan Keukenhof satu-satu nya yang unik di dunia.

 Rangkaian bunga inspirasional di Keukenhof
Sejak berdirinya dalam 64 tahun terakhir ini, Keukenhof tidak hanya memberikan dekorasi yang menarik dan foto-foto indah bagi setiap pengunjung di dalam nya namun juga telah mengundang lebih dari 50 juta pengunjung dari seluruh penjuru dunia telah menemukan kesenangan. Media terkemuka dari Belanda dan luar negeri pada tahun 2013 sekali lagi menyatakan bahwa Keukenhof merupakan salah satu tujuan paling populer di dunia. Hal ini bisa dilihat bagaimana pengunjung yang berjejal-jejal dikeramaian manusia baik di pintu masuk maupun di taman itu sendiri.
Keramaian Pengunjung di Keukenhof

Selain sebagai Pelopor Taman di Eropa yang terkenal dan terbesar di dunia, Keukenhof pun dikenal sebagai tempat pengekspor bunga terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat ketika bunga telah terlihat mekar, maka bunga pun siap menjadi komoditas perdagangan sebagai barang mewah yang bisa menjadi kebutuhan penting di tengah krisis ekonomi global.

Referensi
-http://afp.google.com/article/ALeqM5g5XOyVc1FCemgawsJXSJJJHVTxDw
-http://www.hethuisvanoranje.nl/21%20Koninklijke%20Tuinen/DetuinenvandeHorsten.html
-http://www.jlgrealestate.com/louis_paul_zocher/vondelpark
-http://www.keukenhof.nl/
-http://www.keukenhof.nl/en/5/history-of-keukenhof.html
-http://www.keukenhof.nl/en/11/united-kingdom-land-of-great-gardens.html
-http://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g188597-d195228-r159296576-Keukenhof-Lisse_South_Holland_Province.html
-http://www.vacationhomes.net/blog/2013/01/07/keukenhof---a-walk-among-millions-of-tulips/


By Fanni Fatoni
@Fanni_Fatoni
http://www.facebook.com/fanni05

Wednesday, April 24, 2013

Nulis Nulis Nulis


Salah satu kegiatan yang mungkin nanti akan menjadi kesibukan suatu masa nanti [aamiin aamiin aamiin Ya Allah]. Apa itu???? Nulis nulis nulis.
Sebelum nya diawali dengan membaca. Alhasil banyaklah kosa kata yang ada dalam pikiran kita. Sekitar 8 bulan yang lalu, Nulis nulis nulis sedikit ini tertekuni, tapi mula2 saya mengenal nya dari sebuah paksaan yang dimulai dengan writing artikel dlm English. Paksaan dari kegiatan yang baik pun, Lama dan kelamaan pula menjadi suatu kebiasaan. Jika ditambah mood tubuh dan perasaan lagi bagus, mesti tambah cling tulisan2 yang muncul. Sayang, masih banyak beberapa waktu sela yang terbuang untuk beberapa hal yang kurang berguna jadi tidak nulis nulis nulis. Hahahaha,

Nulis nulis nulis saat ini seperti apa tho????
[Menurut Pendapat semata, yang belum teruji kebenaran nya namun dapat dirasakan ketika penikmat buku membaca tulisan-tulisan yang tersebar di seluruh penjuru dunia]

1). Nulis Nulis Nulis saat ini sudah barang tentu dan yang dilanda serta melanda para penulis dalam hal tujuan mereka adalah untuk memperoleh suatu rejeki dan suatu tambahan income dalam kehidupan sehari-hari. Itu tujuan final dari penulis2 saat ini. Termasuk saya pun, bukan lah orang yang hipokrit bahwa jika ada suatu kesempatan nulis nulis nulis suatu masa nanti (aamiin ya Allah), tujuan tersebut termunculah dalam hati.
Contoh tulisan-tulisan yang datangin rejeki nomplok seperti apa????
- Ambil karya JK Rowling, Penulis terkenal dari Inggris, yang temens sudah pada tahu itu, memperoleh rejeki yang cukup dan bahkan lebih melebihi yang dulu ada dipikiran sang penulis. Bisa2 rejeki nya melebihi Sang Queen Elizabeth kali ya, :). Dari 3 buku nya yang pertama saja, Sang Penulis mendapat keuntungan bak durian runtuh. Sekitar 4 T Lho (Lihat Wikipedia). Tapi itu juga g langsung Gan. Tentu nya setelah dipublish dalam berbagai bahasa dong, :). tapi bukan itu tujuannya, 
- Andrea Hirata, penulis dari Indo, temens pada tahu siapa juga penulis ini. Penulis novel sastra Laskar “[setelah Hujan]” yang membludak pada masa nya. tapi bukan itu tujuan nya, :)
- Karya singkat Habibie [Presiden kita pada akhir era th 2000 an] yang membuat tulisan kenang-kenangan tentang Ainun pun ikut-ikutan menjadi bacaan-bacaan nikmat dan penasaran yang dibaca oleh pembaca buku. Tentu juga banyak rejeki yang diperoleh nya, tapi bukan itu tujuan nya, :)
- Dan masih seabrek Penulis yang Nulis nulis nulis…..

2). Mencoba untuk mengingatkan berdasarkan Pendapat semata di atas. Apa itu???? boleh dibilang penyakit sementara dari para Penulis. Penyakit apa itu????
Bukan penyakit tentang susah nulis, g ada ide, blm ada garis besar, bukan pula penyakit g ada mood juga lho ya…. [sabar Gan], Hihihihi, :)

Penyakit penulis itu, ketika sudah ada dan mau menulis. Tiba2 dia ingin mendapat suatu rejeki instan dari apa yang ditulis nya. Paling tidak iming-iming rejeki nomplok membuat Penulis-penulis gencar mempublish dengan segera apa yang ditulis. Berharap dengan segera apa yang ditulis segera laku keras, langsung laris-laris manis bak pisang goreng yang ada di warung-warung begitu mak jos ketika terbit.

3). Penulis itu ada banyak, bukan hanya buku???? Kadang penulis lepas, penulis cerpen, penulis jurnal2 penelitian, penulis buku2 baik fiktif maupun non fiktif. Tapi coba bagaimana tujuan mereka sebelum nya membuat tulisan2 tersebut.
~ Apakah J.K Rowling Nulis untuk supaya dapat rejeki banyak awal nya????
~ Apakah Andrea Hirata Nulis untuk supaya dapat rejeki banyak awal nya????
~ Apakah pula Habibie Nulis untuk supaya dapat rejeki banyak awal nya????
Dari sebuah keinginan, ingin mengimajinasikan pikiran, ingin mengenang Belitung, tempat tinggal nya dahulu, ingin mengenang Ainun sewaktu masih hidup. Ingin yang mana bukan untuk diri pribadi nya. Cobalah kau terka dalam-dalam terhadap tulisan-tulisan mereka, :)

Contoh penulis jaman lampau
-  Al-Khawarizmi,  seorang yang beberapa temens mgkn blm tahu [ahli matematika pada suatu masa dahulu], juga telah Nulis nulis nulis dengan tujuan bahkan untuk orang banyak. Kamsut nya, eh maksut nya bertujuan supaya tulisan tersebut dapat dinikmati oleh orang banyak. Bahkan karya2 beliau bertahan sampai saat ini.
-  Ibnu Sina, seorang yang beberapa temens mungkin belum tahu [ahli ilmu pengobatan pada suatu masa dahulu], juga telah Nulis nulis nulis tentang hal-hal yang berhubungan tentang pengobatan. Itu pun juga awal mula bertujuan untuk orang banyak.

Mereka adalah salah dua dari orangs jaman lampau yang bagaimana jika tulisan2 beliau dipublish bahkan dijual tentu akan bernilai dengan rejeki yang bisa untuk makan untuk sampe beranak-anak cicit berturunan turunan tidak hanya 7 turunan. Wow wow wow…….

4).    Saya juga lagi belajar Nulis nulis nulis yang coba ayo kita kembali ke tujuan yang lebih mulia. [Semoga kesampaian dan mendapat ridho-Nya. Aamiin ya Allah] Bagaimana kalau tulisan tersebut awal mula untuk mengenang, untuk mendidik, untuk menasehati. Apalagi tulisan tersebut berguna untuk suatu orang banyak yang tidak lain menghindar dari Penyakit tujuan utama adalah UANG. Boleh dibilang sebagai tabungan rejeki akhirat nanti. Karena apa?????.
Lebih baik jika tulisan-tulisan tersebut bermanfaat untuk orang banyak bahkan boleh dibilang umat pada jaman nya [walah kebesaran angan-angan mas]. Kamsut nya, eh maksutnya dengan sendiri nya tujuan untuk rejeki nanti bak pisang goreng yang dijajakan waktu hujan2, yang dengan sendiri nya pula akan terjual laris manis jika umat itu menyukai/bahkan membutuhkannya karena awal mula untuk tujuan tabungan rejeki akhirat nanti.

TUJUAN AWAL BUKAN REJEKI NOMPLOK dunia, Namun untuk kebermanfaatan terhadap sesame. Cobalah lihat, bagaimana tulisan itu nanti akan menjadi seperti apa??? 
Bahkan tulisan-tulisan itu akan bertahan sepanjang masa. Rejeki pun, InsyAllah akan datang menemani nya. Tulisan Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina adalah salah dua dari contoh-contoh yang bertahan sampai sekarang dengan sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang bergerak dibidang-bidang nya tersebut.

Sehingga ada dua perbedaan yang mencolok dari rasa-rasa tulisan2 yang anda, saya bahkan penulis-penulis yang sudah bergentayangan-bergentayangan di dunia ini. Tulisan berawal yang instan ingin rejeki nomplok tapi sebentar saja / tulisan yang bertujuan untuk tabungan rejeki akhirat nanti.

Mari kita pilih, 2 genre yang ada ini!!!!!
Hanya suatu pendapat, :)

Tuesday, October 23, 2012

Paspor

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport.rus memiliki “surat ijin memasuki dunia global”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau
 Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Iptek-4u - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons